Headlines News :
Home » » Oto Iskandar di Nata

Oto Iskandar di Nata

Written By Liputan Jabar on Kamis, 21 Januari 2016 | Kamis, Januari 21, 2016

Otto Iskandar Dinata.jpg
Raden Otto Iskandardinata
Iskandardinata saat masih muda
Tanggal lahir 31 Maret 1897
Bojongsoang, Bandung, Jawa Barat
Meninggal 20 Desember 1945 (umur 48)
Diperkirakan dibunuh di Tangerang, Banten, Jawa Barat.
Sebab meninggal Dibunuh Laskar Hitam.
Penemuan jenazah Tidak pernah diketemukan.
Monumen Monumen Pasir Pahlawan, Lembang, Bandung.
Nama lain Si Jalak Harupat
Suku Sunda
Pendidikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Bandung
Kweekschool Onderbouw, Bandung
Hogere Kweekschool, Purworejo, Jawa Tengah.
Pekerjaan Menteri Negara pada kabinet yang pertama Republik Indonesia tahun 1945.
Organisasi
  • Budi Utomo, Wakil Ketua Bandung, 1921-1924
  • Budi Utomo, Wakil Ketua Pekalongan, 1924
  • Anggota Gemeenteraad Pekalongan
  • Paguyuban Pasundan, Sekretaris Pengurus Besar, 1928. Ketua 1929-1942.[1]
  • Anggota Volksraad, 1930-1941.
  • Pemimpin surat kabar Tjahaja (1942-1945)
  • Anggota BPUPKI
  • Anggota PPKI
Kota asal Bojongsoang, Bandung
Agama Islam
Kerabat
Penghargaan Pahlawan Nasional
Raden Otto Iskandardinata (lahir di Bandung, Jawa Barat, 31 Maret 1897 – meninggal di Mauk, Tangerang, Banten, 20 Desember 1945 pada umur 48 tahun) adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia mendapat nama julukan si Jalak Harupat.

Awal kehidupan

Otto Iskandardinata lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Ayah Otto adalah keturunan bangsawan Sunda bernama Nataatmadja. Otto adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara.[2]
Otto menempuh pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Bandung, kemudian melanjutkan di Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) Bandung, serta di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Setelah selesai bersekolah, Otto menjadi guru HIS di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pada bulan Juli 1920, Otto pindah ke Bandung dan mengajar di HIS bersubsidi serta perkumpulan Perguruan Rakyat.[2]

Pra kemerdekaan

Dalam kegiatan pergarakannya pada masa sebelum kemerdekaan, Otto pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung pada periode 1921-1924, serta sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Pekalongan tahun 1924. Ketika itu, ia menjadi anggota Gemeenteraad ("Dewan Kota") Pekalongan mewakili Budi Utomo.
Oto juga aktif pada organisasi budaya Sunda bernama Paguyuban Pasundan. Ia menjadi Sekretaris Pengurus Besar tahun 1928, dan menjadi ketuanya pada periode 1929-1942. Organisasi tersebut bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan.
Otto juga menjadi anggota Volksraad ("Dewan Rakyat", semacam DPR) yang dibentuk pada masa Hindia Belanda untuk periode 1930-1941.
Pada masa penjajahan Jepang, Otto menjadi Pemimpin surat kabar Tjahaja (1942-1945). Ia kemudian menjadi anggota BPUPKI dan PPKI yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang sebagai lembaga-lembaga yang membantu persiapan kemerdekaan Indonesia.

Pasca kemerdekaan

Setelah proklamasi kemerdekaan, Otto menjabat sebagai Menteri Negara pada kabinet yang pertama Republik Indonesia tahun 1945. Ia bertugas mempersiapkan terbentuknya BKR dari laskar-laskar rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam melaksanakan tugasnya, Otto diperkirakan telah menimbulkan ketidakpuasan pada salah satu laskar tersebut. Ia menjadi korban penculikan sekelompok orang yang bernama Laskar Hitam, hingga kemudian hilang dan diperkirakan terbunuh di daerah Banten.[3].

Pahlawan nasional

Otto Iskandardinata diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Sebuah monumen perjuangan Bandung Utara di Lembang, Bandung bernama "Monumen Pasir Pahlawan" didirikan untuk mengabadikan perjuangannya. Nama Otto Iskandardinata juga diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia.

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. ^ Organisasi tersebut bergerak dalam bidang pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan.
  2. ^ a b Sunarti, Linda, Oto Iskandardinata (Tokoh Pergerakan Nasional dan Paguyuban Pasundan), Dosen Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, dalam situs luckymulyadisejarah.wordpress.com, 15 Juni 2008. Diakses 10 Februari 2011.
  3. ^ "Misteri Si Jalak Harupat", Tempo, diakses 23 Desember 2008
Share this post :

Posting Komentar

 
Copyright © 2016. LiputanJabar.com | Akurat Terpercaya .
Kontak Redaksi | Designed By Bang One